Suharto (1921-2008), Presiden kedua Indonesia,
meraih kekuasaan di tengah periode krisis darurat dan pertumpahan darah.
Pendahulunya, Soekarno,
telah menciptakan komposisi pemerintahan antagonistik yang sangat
berbahaya dan terdiri dari fraksi-fraksi nasionalis, komunis, dan agama.
Pihak lain yang bersemangat untuk tetap memegang kekuatan politik
adalah pihak militer, yang berhasil menjadi lebih berpengaruh dalam
politik pada tahun 1950an waktu perlu menghancurkan sejumlah
pemberontakan yang mengancam kesatuan Indonesia. Keempat kelompok ini
sangat saling mencurigai satu sama lainnya. Ketidakpercayaan ini
kemudian memuncak pada tragedi di pertengahan 1960an ketika sekelompok
perwira aliran kiri, karena pengaruh Partai Komunis Indonesia (menurut
tuduhan pihak militer), melakukan kudeta dengan menculik dan membunuh
tujuh pimpinan utama militer yang mereka tuduh ingin menjatuhkan
Presiden Soekarno. Suharto, seorang perwira tinggi yang mengambil alih
kekuasaan militer selama masa kekacauan ini, menyatakan bahwa Partai
Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang dari segala kekacauan ini. Selama
beberapa bulan kemudian, ratusan ribu pengikut aliran komunis maupun
orang yang diduga pengikut aliran komunis dibantai di Sumatra, Jawa and
Bali. Walaupun banyak fakta tetap tidak diketahui kebenarannya, jelas
bahwa Jenderal Suharto telah muncul sebagai pemilik kekuasaan yang besar
di tengah kekacauan di tahun 1960an.
Peralihan Kekuasaan: Orde Lama menjadi Orde Baru
Pada 11 Maret 1966, penduduk Indonesia masih dalam keadaan terguncang
dan terjebak dalam kekacauan. Tepat pada hari itu, Presiden Soekarno
dipaksa menandatangani sebuah dekrit yang memberikan kekuasaan kepada
Jenderal Suharto untuk melakukan tindakan-tindakan demi menjaga
keamanan, kedamaian dan stabilitas negara. Dekrit ini dikenal sebagai
dokumen Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan menjadi alat
pemindahan kekuasaan eksekutif dari Soekarno ke Suharto. Suharto dengan
cepat melarang segala aktivitas PKI, mulai membersihkan militer dari
elemen-elemen aliran kiri, dan mulai memperkuat peran politik militer di
masyarakat Indonesia. Meski masih tetap presiden, kekuatan Soekarno
semakin lama semakin berkurang sehingga Suharto secara formal dinyatakan
sebagai pejabat sementara presiden pada tahun 1967 dan dilantik menjadi
Presiden Indonesia kedua pada tahun 1968. Ini menandai munculnya era
baru yang disebut 'Orde Baru' dan berarti bahwa kebijakan-kebijakan
pemerintah diubah dengan drastis. Pemerintah baru berfokus pada
pembangunan ekonomi. Hubungan dengan dunia Barat, yang telah dihancurkan
Soekarno, dipulihkan sehingga memungkinkan mengalirnya dana bantuan
asing yang sangat dibutuhkan ke Indonesia. Manajemen fiskal yang penuh
kehati-hatian mulai dilaksanakan oleh para teknokrat ekonomi dan
konfrontasi yang berbahaya dan mahal melawan Malaysia dihentikan.Langkah selanjutnya yang dilakukan Suharto adalah depolitisasi Indonesia. Menteri-menteri tidak diizinkan membuat kebijakan-kebijakan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang diformulasikan oleh atasannya (Presiden). Golkar (akronim dari Golongan Karya, atau kelompok-kelompok fungsional) digunakan sebagai kendaraan parlementer yang kuat milik Suharto. Golkar mencakup beberapa ratus kelompok fungsional yang lebih kecil (seperti persatuan-persatuan buruh, petani dan pengusaha) yang memastikan bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa lagi dimobilisasi oleh partai-partai politik. Golkar dikembangkan menjadi sebuah alat untuk memastikan bahwa mayoritas suara dalam pemilihan umum akan mendukung pemerintah. Golkar memiliki jaringan sampai ke desa-desa dan didanai untuk mempromosikan Pemerintah Pusat. Para pegawai negeri sipil diwajibkan mendukung Golkar sementara kepala-kepala desa menerima kuota suara untuk Golkar yang harus dipenuhi. Kebijakan-kebijakan ini menghasilkan kemenangan besar untuk Golkar pada pemilihan umum 1971. Untuk semakin memperkuat kekuasaan politiknya, Suharto 'mendorong' sembilan partai politik yang ada untuk bergabung sehingga tinggal dua partai. Partai pertama adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang terdiri dari partai-partai Islam dan partai kedua adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) terdiri dari partai-partai nasionalis dan Kristen. Kendati begitu, aktivitas-aktivitas politik kedua partai ini sangat dibatasi sehingga hanya menjadi masa-masa kampanye singkat sebelum pemilihan umum.
Pemerintahan yang Semakin Otoriter
Dari permulaan Orde Baru, angka-angka pertumbuhan makroekonomi sangat mengesankan (penjelasan lebih mendetail ada di bagian 'Keajaiban Orde Baru').
Namun, kebijkan-kebijakan ini juga menyebabkan ketidakpuasan di
masyarakat Indonesia karena pemerintah dianggap terlalu terfokus pada
menarik investor asing. Sementara kesempatan-kesempatan investasi yang
besar hanya diberikan kepada orang Indonesia yang biasanya merupakan
perwira militer atau sekelompok kecil warga keturunan Tionghoa (yang
merupakan kelompok minoritas di Indonesia tapi sempat mendominasi
perekonomian). Muak dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), ribuan
orang melakukan demonstrasi di tahun 1974 ketika Perdana Menteri Jepang
melakukan kunjungan ke Jakarta. Demonstrasi ini berubah menjadi
kerusuhan yang besar yang disebut 'Kerusuhan Malari'. Itu adalah
pengalaman yang mengerikan bagi pemerintahan yang baru karena hal ini
menunjukkan bahwa Pemerintah tidak bisa menguasai massa. Kuatir bahwa
suatu hari mungkin akan ada perlawanan dari jutaan penduduk miskin di
perkotaan dan pedesaan, kebijakan-kebijakan baru (yang lebih menekan)
dilaksanakan oleh Pemerintah. Dua belas surat kabar ditutup dan para
jurnalis ditahan tanpa persidangan. Hal ini mendorong media melakukan
sensor sendiri. Semua ketidakpuasan yang diekspresikan di publik
(seperti demonstrasi) segera ditekan. Sisi ekonomi dari perubahan
kebijakan ini - dan yang mendapat banyak dukungan dari masyarakat
Indonesia - adalah dimulainya usaha-usaha membatasi investasi asing dan
kebijakan-kebijakan yang memberikan perlakuan khusus bagi para pengusaha
pribumi.Dalam politik nasional, Suharto berhasil semakin memperkuat posisinya di tahun 1970an. Produksi minyak domestik yang sedang dalam puncaknya memastikan bahwa jumlah pemasukan negara berlimpah. Pemasukan ini digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan program-program pengentasan kemiskinan. Namun, di dunia internasional, citra Indonesia memburuk karena invasi Timor Timur. Setelah berhentinya masa penjajahan Portugal - dan deklarasi kemerdekaan Timor Timur pada 1975 - militer Indonesia dengan cepat menginvasi negara ini; sebuah invasi yang ditandai dengan kekerasan.
Di tahun 1984, semua organisasi sosial politik harus menyatakan Pancasila (lima prinsip pendirian Negara Indonesia yang diperkenalkan oleh Soekarno pada tahun 1940an) sebagai satu-satunya ideologi mereka. Suharto kemudian menggunakan Pancasila sebagai alat penekanan karena semua organisasi berada di bawah ancaman tuduhan melakukan tidakan-tindakan anti-Pancasila.
Bisa dikatakan bahwa pada tahun 1980an, Suharto berada di puncak kekuasaanya. Setiap pemilu dimenang secara muda. Terlebih lagi, dia berhasil membuat pihak militer menjadi tidak berkuasa. Sama dengan partai-partai politik dan pegawai negeri sipil, militer hanya bekerja untuk mengimplementasikan kebijakan Suharto. Namun depolitisasi masyarakat Indonesia ini memiliki satu efek samping yang penting. Ini menyebabkan kebangkitan kesadaran Islam, terutama di kalangan kaum muda. Karena arena politik adalah area tertutup, umat Muslim melihat Islam sebagai alternatif yang aman. Keberatan-keberatan mengenai pemerintah didiskusikan di mesjid-mesjid dan khotbah-khotbah karena terlalu berbahaya untuk berbicara dalam demonstrasi (yang akan segera dihentikan juga bila terjadi). Kebangkitan (revival) Islam menyebabkan perubahan kebijakan baru pada awal 1990an.
Perubahan Fokus ke Islam
Karena kekuatan-kekuatan Islam selalu kuat sepanjang sejarah
Indonesia, para pemimpin umum Muslim dari organisasi-organisasi seperti
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki lebih banyak ruang untuk
mengkritik (kebijakan) Suharto. Suharto (seorang muslim tradisionalis
yang tidak terlalu religius) mulai melakukan pendekatan baru pada Islam
di awal 1990an. Ini termasuk jiarah naik haji Suharto ke Mekkah di 1991,
penempatan para perwira yang lebih 'ramah Islam' di pucuk pimpinan
militer, dan pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). ICMI
didirikan lebih sebagai sebuah tempat menyuarakan masukan-masukan dari
umat Muslim untuk kebijakan publik daripada sebuah organisasi politik
berbasis massa. Keanggotaannya mencakup para pemimpin Islam yang kritis
dan tidak terlibat dalam pemerintahan, dan menteri-menteri kabinet.
Semua upaya yang dikombinasikan ini memang sedikit mengurangi kritikan
dari komunitas Muslim.
Oposisi yang Semakin Menguat
Selama era 1990an, Pemerintah Orde Baru Suharto mulai kehilangan
kontrol ketika masyarakat Indonesia menjadi semakin asertif. Hal ini
sebagian disebabkan karena kesuksesannya sendiri: perkembangan ekonomi
yang mengesankan membuat lebih banyak orang Indonesia mendapat
pendidikan dan kelompok yang terdidik ini merasa frustasi karena tidak
memiliki pengaruh apa pun dalam merubah keadaan politik di negara ini.
Sementara itu, para pengusaha pribumi frustasi karena tidak dapat
kesempatan bisnis karena kesempatan-kesempatan bisnis yang besar hanya
diberikan kepada keluarga dan teman-teman dekat Suharto
(kroni-kroninya). Dari tahun 1993, demonstrasi-demonstrasi di jalan
menjadi lebih sering terjadi dan bukan tanpa kesuksesan, misalnya sebuah
lotere yang disponsori pemerintah terpaksa dihentikan karena
demonstrasi oleh para mahasiswa dan kelompok-kelompok Muslim. Terlebih
lagi, beberapa pejabat yang didukung pemerintah pusat dikalahkan saat
pemilihan umum di provinsi-provinsi. Ini menunjukkan kepada masyarakat
bahwa rejim Suharto bukannya tanpa kelemahan.Isu lain yang memiliki dampak negatif untuk posisi pemerintah adalah kegiatannya mencampuri urusan internal PDI. Megawati Soekarnoputri (puteri dari Soekarno) dipilih sebagai ketua umum PDI pada tahun 1993 menggantikan Suryadi. Namun, pemerintah tidak mengakui keputusan ini dan memerintahkan dilaksanakannya pemilihan ulang. Megawati, yang semakin kritis terhadap rejim Suharto, dilihat sebagai sebuah ancaman nyata karena status ayahnya. Oleh karena itu, Pemerintah mendukung Suryadi di sebuah konggres lain tanpa mengundang partisipasi Megawati. Ini menghasilkan pemilihan ulang Suryadi sebagai Ketua Umum namun Megawati jelas menolak mengakui hasil dari konggres buatan ini. Hal ini kemudian menyebabkan perpecahan di dalam PDI dan juga bentrokan-bentrokan kekerasan di markas umumnya di Jakarta. Masyarakat pada umumnya merasa frustasi karena Suharto ikut campur dalam urusan internal PDI, terutama karena hal ini melibatkan puteri Sukarno.
Hancurnya Orde Baru Suharto
Legitimasi pemerintahan otoriter Suharto terutama berasal dari
pembangunan ekonomi yang terjadi pada masa pemerintahannya. Dari
keputusasaan di tahun 1960an, proses industrialisasi merubah Indonesia
menjadi negara yang menjanjikan. Institusi-institusi internasional
berpengaruh (seperti Bank Dunia) menyatakan Indonesia sebagai
'Keajaiban Asia Timur' pada tahun 1990an. Istilah-istilah lain yang
digunakan institusi-institusi internasional menggambarkan performa
ekonomi Indonesia sebagai 'Macan Asia' dan 'High Performing Asian
Economy' (HPAE). Tentu saja, komunitas internasional juga menyadari
bahwa hak asasi manusia tidak selalu dihormati oleh pemerintah di negara
ini. Namun, ironisnya, karakteristik Orde Baru yang supresif juga
menjadi kunci dalam mengentaskan kemiskinan untuk jutaan orang karena
hanya ada sedikit ruang untuk menentang pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan. Pada pertengahan 1960an, lebih dari 50% penduduk
diklasifikasikan sebagai kelompok yang hidup di bawah garis kemiskinan,
sementara di 1993 angka ini berkurang menjadi 13,5% dari jumlah total
penduduk. Indikator-indikator sosial lain (seperti partisipasi di
sekolah, angka kematian bayi, usia harapan hidup) menunjukkan
hasil-hasil positif yang serupa.Gaya pemerintahan Suharto adalah sistem politik patronase. Sebagai ganti untuk dukungan di bidang politik atau keuangan, ia membujuk para pengkritiknya dengan memberikan mereka posisi yang bagus di pemerintahan maupun kesempatan bisnis yang bagus. Namun, perlakuan pilih kasih ini tidak hanya diberikan pada para pengkritiknya. Selama dekade terakhir pemerintahan Suharto, anak-anak dan teman-teman dekatnya bisa membentuk sebuah kerajaan bisnis hanya karena kedekatan mereka dengan Suharto. Meskipun banyak orang Indonesia yang frustasi dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme tingkat tinggi di lingkaran pemerintahan ini, Pemerintah selalu bisa merujuk pada pembangunan ekonomi yang mengesankan dan pada saat yang sama melakukan lip service kepada masyarakat dengan mengklaim bahwa ada usaha-usaha memberantas korupsi di negara ini. Namun, pilar ekonomi yang menjadi alat legitimasi ini menghilang ketika Krisis Finansial Asia melanda pada 1997-1998 (penjelasan lebih mendetail ada di bagian Krisis Finansial Asia). Indonesia menjadi negara yang paling terpukul akibat krisis ini yang kemudian menimbulkan efek bola salju. Dari sebuah krisis ekonomi, efeknya berlanjut menyebabkan krisis sosial dan juga politik. Banyak pencapaian ekonomi dan sosial runtuh dan masyarakat Indonesia menjadi bertekad menuntut adanya pemerintahan (tanpa Suharto) yang baru. Jakarta berubah menjadi medan pertempuran tempat kerusuhan-kerusuhan menghancurkan ribuan gedung, sementara lebih dari seribu orang dibunuh. Pada 21 Mei 1998, Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, sekutu dekat Suharto, menjadi presiden ketiga Indonesia. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui tuntutan-tuntutan masyarakat Indonesia untuk memulai era Reformasi.
sumber:http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/politik/orde-baru-suharto/item180






0 komentar:
Posting Komentar